https://jawatimuran.wordpress.com/2013/03/18/larung-sesaji-kabupaten-blitar/
http://www.eastjava.com/tourism/blitar/larung-sesaji-gallery.html
Upacara Larung Sesaji
Upacara Tradisional Larung Sesaji di Pantai Tambakrejo dilaksanakan
setiap tanggal 1 Muharram atau tahun baru Islam. Dalam tahun Jawa
disebut sebagai Satu Suro.
Acara Larung Sesaji di Pantai Tambakrejo penuh nuansa spiritual ini
merupakan refleksi rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Pemurah,
yang telah melimpahkan hasil bumi bagi masyarakat Blitar, khususnya
masyarakat nelayan setempat.
Persembahan yang dilarung ke Samudera Indonesia (orang Blitar
menyebutnya Laut Selatan) melalui upacara adat ini adalah berbagai macam
hasil bumi dan binatang ternak yang disembelih.
Bupati Blitar bertindak selaku pemimpin upacara, didampingi para
pejabat dai; tetua adat setempat. Tradisi larung sesaji ini tidak hanya
di Pantai Tambakrejo, melainkan juga dilaksanakan secara serentak di
pantai-pantai selatan lainnya.
Setiap melaksanakan ucapara Larung Sesaji, selalu dibacakan kembali
sejarah Pantai Tambakrejo. Dikisahkan, kawasan pantai tersebut merupakan
hutan belantara yang lebat. Cikal bakal (perintis/pendahulu) permukiman
di tempat itu diawali datangnya seorang pelarian perang zaman
penjajahan Belanda.
Pelarian itu adalah prajurit laskar Pangeran Diponegoro, bernama Ki
Atmo Wijoyo. Sejak Pangeran Diponegoro diperdaya Jendral De Kock dalam
perundingan penuh rekayasa, anak
buahnya langsung bercerai-berai. Beberapa di antaranya melanjutkan
perang gerilya, namun banyak pula yang kembali hidup di tengah
masyarakat. Ki Atmo Wijoyo berusaha bertahan hidup di tempat yangjauh
dari pertempuran, di hutan tepi pantai.
Di hutan itu, Ki Atmo Wijoyo melepas baju keprajuritannya dan bersatu
dengan alam. Untuk mempertahankan hidupnya, ia memanfaatkan segala
sesuatu yang berada di sekelilingnya. Berada di persembunyian asing ini,
ia tidak hanya berhadapan dengan tantangan alam berupa lapar, dahaga,
dan gangguan binatang buas, tetapi juga gangguan makhluk halus. Tetapi
Ki
Atmo Wijoyo mampu mengatasinya.
Kunci keberhasilan Ki Atmo Wijoyo mengalahkan tantangan-tantangan itu
dengan kekuatan lahir dan batin. Sebagai seorang prajurit Diponegoro,
ia memiliki kemampuan kanuragan yang prima. Sedangkan secara psikis, ia
memiliki ilmu batin dan tenaga dalam yang linuwih, hebat.
Ia mampu menjalin komunikasi dengan lingkungan barunya. Tidak hanya
itu, ia juga berhasil membina hubungan dengan masyarakat di luar hutan.
Hingga akhirnya, banyak yang tertarik ke pantai yang dibuka Ki Atmo
Wijoyo.
Jika kemudian masyarakat Pantai Tambakrejo memperoleh kemakmuran
seperti sekarang ini, orang tidak melupakan jasa Ki Atmo Wijoyo. Untuk
menunjukkan rasa syukur, dipilih suatu cara berupa persembahan yang
dikirim ke laut.
Pengorbanan memang diperlukan, sebagai bagian dari keinginan untuk
memeapai harapan yang lebih besar, berupa kemakmuran. Tuhan diminta
selalu menurunkan nikmat dan karunia-Nya melalui hasil bumi dan laut
yang menghidupi mereka.
Dengan banyaknya tempat-tempat wisata di Kabupaten Blitar, Dinas
Informasi Publik dan Pariwisata tidak hanya promosi saja, tetapi juga
selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas dan melaksanakan
pembenahan-pembenahan demi kesempurnaan.
Blitar Beauty Tourism
Senin, 06 Juli 2015
Candi yang terletak di desa kotes keccamatan gandusari kabupaten Blitar ini, adalah candi hindu yang terletak di tengah perkampungan masyarakat di desa kotes. candi ini terbagi menjadi dua komplek. yaitu cadi Kotes I dan candi Kotes II. di kompek candi ini juga terdapat sumur tua yang ada di bagian belakang candi. menurut keterangan Supriyono, juru kunci candi Kotes, sumur tersebut adalah sumur tua yang di gunakan untuk mengairi tanaman yang ada di candi ini.karena, selain kita bisa menikmati arsitektur candi yang penuh akan nilai sejarah, kita juga bisa menikmati taman di komplek candi Kote ini.
Langganan:
Postingan (Atom)

